Korupsi lebih Kejam dari Terorisme (1)

May 19, 2012 at 3:32 am | Posted in Artikel | Leave a comment

Korupsi lebih Kejam dari Terorisme (1)

Oleh I Gusti Bagus Rai Utama

Bisa jadi, kini kata ”korupsi” menjadi salah satu kata yang paling banyak diucapkan di Indonesia. Tiap hari kita mendengarnya di media massa. Tapi sangat jarang media memuat bagaimana cara meminimalkan, menghingdari, atau menolak tindakan korupsi. Tulisan ini mencoba memarkan faktor-faktor yang berhubungan dan yang mungkin dapat memicu tindakan korupsi.

Seharusnyalah kita, bangsa Indonesia, malu memiliki negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Korupsi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan berdampak buruk pada hampir seluruh sendi kehidupan. Pernyataan ini dapat dijelaskan oleh fakta berdasarkan corruption perception index 2009 Indonesia bertengger pada ranking 111 dengan skor 2,8 (padahal angka terbersih adalah 10) bersama negara Djibouti, negara republik di Afrika timur laut, yang belum dikenal oleh banyak orang. Lalu bagaimana corruption perception index 2012? Coba anda tebak, apakah kita bertambah bersih atau malah kian korup?

Beberapa faktor penyebab tindak korupsi dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal sangat dimungkinkan oleh sebab prilaku materialistis dan konsumtif manusia zaman kapitalis ini. Hal itu menyebabkan orang-orang yang memiliki kuasa atau jabatan menjadi semakin “tamak” dan “rakus”. Moral kurang kuat menghadapi godaan juga menjadi menyebab yang cukup kuat seseorang berbuat korup. Sifat malas namun ingin dapat hasil besar, kurangnya keteladanan para pemimpin, nyaris menjadi tontotan tiap hari. Sementara rendahnya gaji para pegawai negeri dan swasta juga dapat mendorong terjadi tindakan korupsi, ditambah lagi mekanisme pengawasan yang kurang ketat dalam organisasi pemerintahan atau swasta.

Kondisi lingkungan sebuah organisasi atau lembaga juga mendorong terjadinya seseorang yang tidak memiliki hasrat untuk korupsi akhirnya terpaksa terseret juga oleh arus lingkungannya yang terlanjur kompromi terhadap kebiasaan korupsi. Fakta internal lainnya juga diindikasikan oleh lemahnya keimanan, rendahnya kejujuran, kurannya rasa malu, dan rendahnya penerapan etika berorganisasi atau bermayarakat.

Faktor external yang mendorong hasrat untuk melakukan tindakan korupsi dapat disebabkan oleh money politic yang cenderung menghasilkan pemimpin korup. Pemimpin yang terpilih karena uang cenderung berusaha mendapatkan uang untuk mengembalikan yang telah dikeluarkannya. Penegakan hukum yang lemah, serta perundang-undangan yang dibuat asal-asalan juga menjadi faktor penyebab dominan suburnya tindakan korupsi di Indonesia (DIKTI, 2012).

“Extra ordinary crime for corruption”

Korupsi identik dengan kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, suap, amoral, kotor, dan pastinya korupsi bukanlah sebuah budaya malainkan sebuah tidakan yang tidak beradab yang lebih kejam dari terorisme.

Meluasnya praktik korupsi di suatu negara akan memperburuk kondisi ekonomi bangsa, misalnya harga barang menjadi mahal dengan kualitas yang buruk, akses rakyat terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi sulit, keamanan suatu negara terancam, kerusakan lingkungan hidup, dan citra pemerintahan yang buruk di mata internasional sehingga menggoyahkan sendi-sendi kepercayaan pemilik modal asing, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan negara pun menjadi semakin terperosok dalam kemiskinan. Bukankah hal tersebut lebih kejam dari terorisme?

Di Indonesia, dengan meminjam istilah kedokteran, korupsi telah mamasuki stadium lanjut dan kronis, bahkan korupsi dianggap sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) dengan dampak buruk yang luar biasa pula, untuk itu kita memerlukan tindakan luar biasa (salah satunya adalah KPK).

Pemberantasan korupsi dapat terdiri dari penindakan dan pencegahan. Saat ini upaya pemberantasan korupsi belum menunjukkan hasil yang optimal dan oleh karena itu perlu ditingkatkan dengan pendekatan yang holistik dan simultan dengan melibatkan semua elemen masyarakat. Kita semua harus menjadi subjek pemberantas korupsi, dan menurut PP 71 Th. 2000 disebutkan bahwa peran serta masyarakat adalah peran aktif yang dapat perorangan, ormas, atau Lembaga Swadaya Masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Pemberantasan korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan-penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dengan peran serta masyarakat (KPK).

Tidak dapat dimungkiri lagi, peran pemuda atau mahasiswa telah tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai kelompok masyarakat yang paling ampuh untuk dapat melakukan perubahan. Kebangkitan Indonesia yang terkerucut dalam sumpah pemuda 1928 adalah tonggak sejarah lahirnya NKRI, Lahirnya Orde Baru yang kala itu adalah baik dan benar juga diperankan oleh kelompok pemuda atau mahasiswa. Saat lahirnya Era reformasi lagi-lagi mahasiswa berada pada barisan terdepan. Pada kondisi saat ini, peran perguruan tinggi menjadi sangat penting karena perguruan tinggilah yang akan mencetak generasi yang semestinya telah dibekali senjata anti korupsi. Pemberantasan korupsi, terutama pencegahan, perlu melibatkan peran serta masyarakat, termasuk. Mahasiswa mempunyai potensi besar untuk menjadi agen perubahan dan motor penggerak gerakan anti korupsi.

Mestinya, perguruan tinggi menjadi pendorong gerakan pencegahan korupsi, dan gerakan tersebut dapat diwujudkan dengan berbagai cara dan metode, seperti pendidikan anti korupsi dengan mewajibkan pemimpin mahasiswa untuk mengikuti pendidikan anti korupsi, mendorong adanya pendidikan anti korupsi di kampus, mengadakan seminar anti-korupsi, adanya materi pendidikan anti-korupsi untuk perguruan tinggi. Sementara metode yang dapat digunakan adalah dengan kampanye gerakan anti korupsi, melalui pembuatan media prograganda seperti baliho, spanduk, dan poster, pembuatan media on-line untuk mengkampanyekan ujian bersih, menanamkan nilai kejujuran/ujian bersih pada tingkatan mahasiswa.

Dari mana memulainya? Tak seorang pun dapat mengubah dunia ini jika tidak dimulai dari diri sendiri. Gerakan perubahan diri dapat dimulai saat ini juga. Setidaknya gerakan anti korupsi dapat digerakkan dari berbagai dimensi; dimensi budaya, hukum, politik, sosial, agama, bahkan mungkin dari dimensi ilmu kedokteran, misalnya. edisi 1640

I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA., Dekan Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura Bali.

sumber: http://koranbalitribune.com/2012/05/18/korupsi-lebih-kejam-dari-terorisme-1/

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: