KEJUJURAN PROFESI PENDOBRAK BOBROK MORAL BANGSA MENUJU KEBANGKITAN INDONESIA

May 14, 2012 at 8:45 am | Posted in Artikel | Leave a comment

KEJUJURAN PROFESI PENDOBRAK BOBROK MORAL BANGSA MENUJU KEBANGKITAN INDONESIA

Oleh

I Gusti Bagus Rai Utama

 

Pada jaman modern saat ini, hegemoni suku mayoritas,  agama mayoritas, politik mayoritas sebenarnya tidak hangat lagi kita bicarakan jikalau kita mampu mengimplentasikan konsep Plato, konsep Catur Warna ala Hindu, konsep talenta dan karunia ala kaum Kristiani. Dimana sebenarnya letak mis-implentasinya? Padahal tingkat pendidikan lebih tinggi secara kuantitas jika kita bandingkan dengan generasi sebelumnya pada sebagaian besar masyarakat kita.

Plato telah mengajarkan sebuah kebangkitan peradaban umat manusia akan penghormatan pada setiap profesi pada sebuah masyarakat untuk menciptakan sebuah perdamaian. Golongan pemerintah baiklah mereka dapat memerintah dengan baik bukan berdagang, begitu juga kelompok prajurit baiklah mereka menjaga keutuhan bangsanya tanpa harus ingin ikut memerintah, golongan pedagang baiklah mereka berdagang tanpa harus ingin berpolitik, begitu juga golongan petani baiklah mereka bekerja dengan baik untuk sebuah pekerjaan mulia agar umat manusia ini dapat bertahan hidup oleh buah tangannya. Sementara pada konsep catur warna sebenarnya telah mengajarkan hal yang mulia untuk perdamaian dan kemakmuran umat manusia namun sangat disayangkan implementasi konsep sebagus catur warna tersebut berubah menjadi konsep buta warna dan eksistensi warna semakin tidak jelas. Begitu juga konsep yang diajarkan oleh Paulus nyaris sama dengan Plato dan Catur warna ala Hindhu, dimana Paulus juga mengajarkan pada umat manusia agar setia terhadap talenta dan karunia yang telah dianugerahkan kepada umat masing-masing; seorang guru baiklah ia mengajar dengan bijaksana, seorang pendoa baiklah ia dengan setia selalu mendoakan keselamatan seluruh umat manusia tanpa harus memandang pahala material yang akan dia terima.

Ide-ide mengenai terbentuknya dan berkembangnya sebuah negara tentu bukan sebuah tema yang

menarik apabila dibandingkan dengan kajian politik kontemporer seperti  terbentuknya masyarakat madani (civil society), demokratisasi, pelaksanaan rule of law, clean government dan good governance, dan sebagainya (Fadil, 2012). Meningkatnya jumlah politisi korup, hakim korup, politisi mesum, guru sesat, pendeta berbisnis, polisi kriminil adalah  sebuah gambaran bahwa mereka belum memahami fungsi dan hakekat dari sebuah profesi atau talenta atau karunia yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Bulan Mei ini adalah bulan yang baik untuk kita jadikan bulan perenungan agar kita dapat bangkit lagi menjadi sebuah bangsa yang terhormat layaknya ala zaman Sri Wijaya ataupun Majapahit.

Setidaknya ada tiga gerakan yang dapat dipertimbangkan untuk mewujudkan kebangkitan bangsa menuju cita-cita sebuah bangsa yang terhormat, yakni; gerakan “enough is enough” artinya gerakan penyadaran diri agar setiap kita umat manusia sadar bahwa setiap manusia telah diberikan berkah yang telah disesuaikan dengan kerja yang telah kita lakukan; gerakan berikutnya adalah “takut akan Tuhan” yang dapat kita wujudkan dengan memupuk sesering mungkin kadar keimanan kita kepada Tuhan melalui aktivitas keagamaan yang kita anut masing-masing; gerakan selanjutnya adalah gerakan “kejujuran profesi”.

Sementara Socrates menawarkan untuk muwudkan masyarakat yang adil haruslah sebuah masyarakat dipimpin oleh seseorang yang bijaksana artinya para pemimpin bijaksanalah yang akan mampu mengarahkan masyarakatnya dengan baik dan optimal. Pemimpin yang menghormati profesi dan kejujuran terhadap profesinya juga dianggap mampu mendorong masyarakatnya untuk berlaku jujur dalam setiap pekerjaannya. Pemimpin yang adil dan tidak berpihak pada yang besar saja juga dianggap dapat mendorong terjadinya kebangkitan akan kebanggaan pada sebuah profesi. Kelompok yang besar baiklah mengayomi yang kecil, yang kuat baiklah ia mau memberdayakan yang kecil.

 

 

Gerakan reformasi yang mulia ini hanya melahirkan sebuah kontradiksi terhadap pembangunan manusia bangsa ini. Saat ini,  justru semakin sulit untuk dapat membedakan mana kaum militer, mana kaum sipil, mana kaum pedagang, mana kaum buruh, dan sebagainya karena mereka sama beringasnya, dan sama kejamnya. Peristiwa Mesuji Lampung, peristiwa bentrok massa di Solo, peristiwa penyegelan rumah ibadah di beberapa kota adalah bukti sebuah kontradiksi sebuah gerakan reformasi.

Kebebasan demokrasi saat ini telah menciptakan manusia-manusia yang pragmatis, karena pemahaman terhadap sebuah profesi hanya dianggap sebagai sebuah keuntungan yang diharapkan dapat memperkaya dan memegahkan diri secara lahiriah semata. Contoh nyata, jangan harap akan ada pejabat masuk kampung dan mengunjungi kelompok masyarakat miskin jikalau tidak digelar pemilu atau pilkada misalnya sebagai sebuah kebobrokan masyarakat yang teramat parah. Bantuan bencana alam yang dikorup sebuah ironi sifat luhur manusia jauh dibawah level se-ekor binatang.

Lebih parah lagi, ada pemimpin bejad, korup, dan tirani pada kelompok yang dianggap tak berdaya akhir-akhir ini juga menjadi protret suram dan kelam masyarakat kita saat ini. Sebagai contoh misalnya masih terjadinya pembiaran atas penyegelan rumah ibadah pada kelompok minoritas tertentu telah menjadi gambaran bahwa pemerintah kita hanya berpikir cari  aman dan hanya menyelamatkan kekuasaannya semata dan hal tersebut sangat jauh dari karakter seorang pemimpin bijaksana. Gerakan pembangunan manusia seutuhnya yang pernah kita dengar tempo dulu mungkin lebih baik kita gerakkan lagi agar kita dapat menjadi manusia yang manusia, manusia yang tidak memiliki  sifat binatang, manusia yang selalu sadar bahwa manusia harus utuh secara roh, jiwa, dan raga untuk dapat berkata dengan baik, berpikir dengan akal sehat, dan bertindak dengan budi yang luhur.

 

Penulis: I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA. adalah Dekan Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura Bali, Mahasiswa S3 Pariwisata Universitas Udayana Bali.

Sumber: http://balipost.realviewdigital.com/default.aspx?iid=62776&startpage=page0000006#folio=6

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: