Keberlanjutan Pembangunan Pariwisata Bali

February 13, 2012 at 1:37 am | Posted in Artikel | Leave a comment
» Opini
13 Februari 2012 | BP
Keberlanjutan Pembangunan Pariwisata Bali
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama

APAKAH pembangunan Bali telah menerapkan prinsip-prinsip pembagunan berkelanjutan? Mengutip pendapat seorang tokoh Bali (Manuaba), harus dapat dibedakan antara ‘pembangunan Bali’ dan ‘pembangunan di Bali’. Pembangunan Bali mengidentifikasi bahwa pembangunan dilakukan atas inisiatif masyarakat Bali, dilakukan oleh masyarakat, untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Bali. Namun yang terjadi saat ini, ada indikasi bahwa Masyarakat Bali justru mulai tergusur. Jika ada masyarakat Bali yang dapat bersaing pada dunia bisnis, jumlahnya sangat kecil. Lahan-lahan hijau atau persawahan dan pertanian produktif telah semakin menyempit yang menandakan bahwa pengelolaan terhadap sumberdaya alam Bali nyaris tanpa kendali. Pengelolaan terhadap kunjungan wisatawan pada beberapa tempat wisata di Bali belum memiliki standar yang baik untuk mendukung daya dukung dan keberlanjutan atas sumberdaya yang ada. Sehingga, permasalahan pengelolaan masih terjadi di banyak tempat wisata di Bali. Pembangunan akomodasi yang seolah-olah tanpa batas dan tanpa mempertimbangkan daya dukung wilayah dan mengabaikan asas pemerataan pembangunan wilayah masih tampak dengan jelas seperti kesenjangan pembangunan pariwisata wilayah Bali Selatan dengan Bali Utara misalnya.

Mestinya pembangunan pariwisata dapat diletakkan pada prinsip pengelolaan dengan manajemen kapasitas, baik kapasitas wilayah, kapasitas objek wisata tertentu, kapasitas ekonomi, kapasitas sosial, dan kapasitas sumberdaya yang lainnya sehingga dengan penerapan manajemen kapasitas dapat memperpanjang daur hidup pariwisata itu sendiri sehingga konsepsi konservasi dan preservasi serta komodifikasi untuk kepentingan ekonomi dapat berjalan bersama-sama dan pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat diwujudkan.

Belum Jadi Subjek

Apakah pariwisata Bali telah menerapkan manajemen kapasitas pada semua pengelolaan objek wisata saat ini? Bagaimanakah dengan visi masyarakat Bali tentang pembangunan Bali? Jikalau dilakukan penelitian pada tataran akar rumput, mungkin visi pembangunan Bali belum dapat dipahami secara massal yang berarti masyarakat Bali sebenarnya masih menjadi objek pembangunan dan bukan menjadi subjek atau pelaku pembangunan itu sendiri. Keterwakilan masyarakat pada parlemen belum dapat menyuarakan suara masyarakat secara utuh dalam artian suara yang ada mungkin hanya merupakan suara beberapa elite partai tertentu sehingga visi pembangunan untuk pemberdayaan masyarakat secara massif masih sangat diragukan. Istilah ‘pagar makan tanaman’ masih relevan untuk menggambarkan kondisi pembangunan masyarakat Bali. Sebagai contoh nyata mengenai istilah ini, maraknya pembangunan vila atau fasilitas akomodasi di beberapa tempat atau area konservasi seperti yang terdapat di kawasan konservasi justru diindikasikan telah dilakukan oleh beberapa tokoh atau elite penting di pemerintahan dan di parlemen.

Bagaimana dengan kondisi pelibatan pemangku kebijakan dalam pembangunan pariwisata Bali? Pelibatan semua pemangku kebijakan memang telah menjadi perhatian serius pada setiap pembangunan di Bali. Bahkan masyarakat Bali telah merasakan atmosfer kebebasan demokrasi yang cukup baik, namun karena masih lemahnya pemahaman masyarakat atas konsep pembangunan, akhirnya justru menjadi penghalang pembangunan itu sendiri. Khususnya yang terjadi pada beberapa kasus pembangunan, misalnya pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kabupaten Buleleng, pembangunan jalan layang untuk mengatasi masalah kemacetan. Munculnya kelompok baru pada masyarakat tertentu, seperti kelompok yang mengatasnamakan diri kelompok ‘Laskar AAA’, ‘Bala BBB’ dan lainnya juga menjadi potensi kelompok pemangku kepentingan yang dapat mempengaruhi jalannya pembangunan di Bali dan jika tidak dikelola dengan baik, akan dapat menimbulkan konflik baru di masyarakat.

Masih terjadi pencatatan ganda kependudukan khususnya yang berhubungan dengan penduduk pendatang lokal yang berasal dari kabupaten lain di Provinsi Bali yang berimbas pada ketidakrapian database kependudukan Provinsi Bali dan bahkan pencatatan secara nasional. Masih terjadi konflik desa adat, perebutan lahan pada tapal batas desa dan konflik kecil lainnya menandakan bahwa masyarakat Bali semakin kritis dan jika tidak diberikan pemahanan yang cukup baik, akan dapat menimbulkan konflik baru di masyarakat. Konsep kepemilikan bersama atas alam ciptaan Tuhan, konsep kepemilikan satu bumi untuk semua umat manusia akan menjadi relevan untuk disosialisasikan bersama-sama.

Bagaimana dengan penerapan sertifikasi di Bali, sudahkan berjalan dengan baik, bagaimanakah evaluasinya? Tiga pertanyaan yang menjadi hal penting untuk dituangkan dengan alasan, bahwa program sertifikasi sangat penting karena berhubungan dengan standar atau prosedur yang dipakai atau pengakuan atas profesionalitas pelaku pada bidangnya. Misalnya, seorang pramuwisata haruslah seseorang yang telah tersertifikasi sesuai dengan kriteria global yang telah ditetapkan yang dapat diterima oleh semua orang secara internasional. Pekerja hotel yang memiliki keahlian di bidangnya yang ditunjukkan dengan sebuah program sertifikasi yang dilakukan secara periodik dengan cara baik, proses yang baik, dan dievaluasi secara periodik untuk menyesuaikan dengan isu-isu pembangunan terkini dalam konteks pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah, sudahkan proses sertifikasi tersebut dilakukan pada proses semestinya yang dilakukan berdasarkan standar global? Siapa yang melakukan evaluasi atas program sertifikasi tersebut, bagaimanakah yang telah terjadi di Bali? Tulisan ini memerlukan penelitian yang bersifat evaluative untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi pariwisata Bali saat ini khususnya yang berhubungan dengan program sertifikasi untuk mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan. Penerapan program standar global pada pariwisata Bali memang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan atau hotel tertentu di Bali namun jumlahnya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan harapan yang mestinya dapat dilakukan di Bali untuk mendukung pembangunan pariwisata Bali berkelanjutan. Seberapa banyak hotel-hotel di Bali yang telah tersertifikasi dengan standar global? Pertanyaan ini menjadi introspeksi dan otokritik bagi pariwisata Bali bahwa masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan tersebut.

Satu kata kunci untuk dapat menerapkan program-program pendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan tersebut adalah kata ‘kesungguhan’”. (Font, 2001). Idealnya ada pertemuan antara sisi penawaran yang telah disepakai secara sungguh-sungguh oleh semua pemangku kebijakan termasuk di dalamnya masyarakat lokal dan industri bersinggungan harmonis dengan sisi permintaan yang di dalamnya melibatkan unsur wisatawan sebagai penikmat produk destinasi.

Kata kunci berikutnya adalah disiplin untuk mematuhi semua aturan dan peraturan yang telah disepakati, kelompok industri mestinya digerakkan oleh sikap disiplin untuk mematuhi aturan yang ada pada sebuah destinasi. Para pemangku kebijakan yang taat pada aturan, tidak ada lagi istilah ‘pagar makan tanaman’ sangat diperlukan untuk mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Masyarakat lokal yang senantiasa bersungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan dan sambutan bagi semua wisatawan yang datang sehingga citra dan pencitraan keramahan penduduk lokal dapat memperkuat citra dan branding destinasi pariwisata Bali.

Penulis, Dekan Fakultas Ekonomi dan Humaniora Universitas Dhyana Pura Badung, Mahasiswa S-3 Pariwisata Udayana Bali.

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=1&id=6217

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: