Kegagalan di Balik Kesuksesan Pariwisata Bali

October 7, 2008 at 12:19 am | Posted in Artikel | Leave a comment
Tags:

Rabu Kliwon, 18 April 2007

Artikel


Hal-hal yang berbau tradisional dianggap kuno untuk diadopsi di industri pariwisata, sebut saja misalnya sulitnya makanan tradisional menjadi menu utama pada hotel-hotel di Bali. Masyarakat Bali hanya kebagian remah-remah dari derap laju pariwisata di daerahnya.

——————————

Kegagalan di Balik Kesuksesan Pariwisata Bali
Oleh IGB Rai Utama, S.E., MMA.

CHRIS Cooper dkk. (2005) mengganggap bahwa kegagalan pembangunan pariwisata untuk membangun ekonomi masyarakat lokal di sebuah destinasi sering disebabkan oleh adanya gap antara mitos dan kenyataan tentang pariwisata itu sendiri. Di kalangan lembaga pendidikan dan institusi pariwisata dan perhotelan juga sering bermitos pada hal yang sama.

——————-

Sejak dulu, pariwisata Bali telah dipropagandakan sebagai sebuah tujuan wisata internasional, dianggap para wisatawan yang datang ke Bali kebanyakan adalah orang asing, padahal dalam kenyataan di lapangan wisatawan domestik nampak lebih banyak daripada orang asing itu sendiri. Wisatawan domestik tidak dilayani secara maksimal dan cenderung kita sebagai karyawan di bidang pariwisata atau perhotelan menganggap wisatawan domestik tidak berduit, kikir, dan kumal. Misalnya, ketika wisatawan domestik mengunjungi sebuah artshop, jangan harap dapat dilayani layaknya wisatawan asing karena masyarakat kita sendiri telah terlalu tinggi bermitos bahwa wisatawan asing pasti berkantong tebal. Ketika kita mengalami krisis wisatawan asing, kita baru tersadar bahwa wisatawan domestik sangat berharga bagi kita. Kenyataan ini juga sebenarnya peluang dan kesempatan bagi para pelaku pariwisata di Bali untuk mengemas sebaik mungkin pariwisata itu sendiri dari penanaman etika akan nilai-nilai kemanusiaan bahwa semua manusia entah dia sebagai wisatawan asing atau domestik adalah sama derajat, bukan diukur atas mitos materialisme belaka.

Mitos yang sama juga terjadi pada dunia transportasi, di mana pariwisata Bali dianggap hanya bisa dijangkau oleh transportasi udara. Kenyataan ini bisa kita lihat bahwa pembangunan pada fasilitas transportasi udara jauh lebih maju daripada pembangunan trasportasi laut dan transportasi darat. Sumber daya dan kenyataan bahwa Indonesia negeri maritim tidak mendapat perhatian yang maksimal dan cenderung diabaikan. Pelabuhan laut dibangun ala kadarnya untuk kapal bisa bersandar saja. Lebih parah lagi dengan transportasi darat, penataan jalan raya yang amburadul akan menyebabkan kemacetan di mana-mana, padahal dalam kenyataan para wisatawan secara langsung berhadapan dengan fasilitas ini. Sistem transportasi umum yang tidak memiliki standar yang jelas sangat bertolak belakang dengan mitos tentang daerah tujuan wisatawan internasional.

Kegiatan pariwisata dianggap hanya sebagai kegiatan berlibur dan bersenang-senang, padahal dalam kenyataan pariwisata itu sendiri sering dikemas dengan kegiatan lain seperti misalnya rapat-rapat entah pada level internasional, nasional, bahkan level perusahaan. Pariwisata juga sering dikemas dengan paket program pendidikan seperti studi trip, olah raga, hobi, politik, dan kegiatan lain yang cenderung akan terus berkembang. Praktisi pariwisata dapat mengambil kenyataan ini sebagai peluang untuk memperkaya jenis paket wisata yang tidak hanya mengandalkan paket liburan saja.

Bahasa Asing

Kita sering dimitoskan bahwa jika ingin terjun pada pekerjaan bidang pariwisata harus mampu berbahasa asing setidak-tidaknya mampu berbahasa Inggris. Kenyataan di lapangan hanya sedikit para pekerja yang terlibat langsung dengan keharusan berbahasa asing. Sebut saja misalnya para pemandu wisata, para pelayan restoran dan kamar, pegawai pada kantor depan, dan selebihnya hampir dapat dibilang tidak secara langsung berhubungan dengan bahasa asing. Penekanan pembangunan SDM hanya dititikberatkan pada penguasaan bahasa asing, dan cenderung melupakan pembangunan etika kerja, budaya, dan kemanusiaan. Masalah yang timbul sekarang adalah terbentuknya masyarakat Bali yang materialistik dan cenderung kehilangan rasa persahabatan antarsesama. Hal-hal yang berbau tradisional dianggap kuno untuk diadopsi di industri pariwisata, sebut saja misalnya sulitnya makanan tradisional menjadi menu utama pada hotel-hotel di Bali.

Hotel-hotel dibangun sangat megah dan cenderung mengadopsi teknologi dan budaya negara maju karena dibangun oleh perusahaan multinasional itulah mitos yang telah terbentuk di benak para pendahulu kita. Pada akhirnya hal ini telah melahirkan kesenjangan antara lokal dan internasional. Masyarakat Bali hanya kebagian remah-remah dari derap laju pariwisata di daerahnya. Kenyataan ini terjadi karena para pendahulu kita terlalu bermitos yang serba internasional, padahal pariwisata kita sendiri menjual ketradisionalan Bali sebagai daya tarik utamanya. Sandangkan pariwisata budaya hampir tidak terasa lagi karena budaya masyarakat telah berubah begitu cepatnya, langkanya SDM yang mempelajari budaya, seni dan berkesenian akibat kurangnya penghargaan dan perhatian pada bidang tersebut telah mengurangi keunikan Bali sebagai destinasi pariwisata budaya. Sulitnya masyarakat lokal bergabung pada bisnis pariwisata saat ini juga karena kita bermitos terlalu internasional.

Pariwisata telah terlalu jauh meninggalkan sektor yang lainnya, seolah-olah pariwisata dapat berjalan sendiri. Pariwisata tidak sekadar pembangunan hotel-hotel berbintang, restoran, biro perjalanan, namun lebih daripada itu semua. Pembangunan masyarakat Bali secara fisik dan mental sangat penting karena masyarakat merupakan bagian dari produk wisata itu sendiri. Pariwisata dianggap sebagai dewa perekonomian Bali, sementara sebagian besar masyarakat Bali tidak terlibat secara langsung pada kegiatan pariwisata. Peta pertumbuhan dan perkembangan pariwisata lebih berpusat pada radius seputar kawasan bandara dapat menjadi bukti bahwa pembangunan telah berjalan tanpa penataan yang baik.

Pembangunan pariwisata bukanlah pembangunan yang berdiri sendiri, namun pembangunan multisektoral yang saling berkaitan. Pembangunan pariwisata juga pembangunan manusia seutuhnya yang berlandaskan atas keseimbangan ekonomi, wilayah, dan kemanusiaan itu sendiri (profit-planet-people). Jika kita menyebut pembangunan pariwisata Bali harusnya pembangunan dapat menjangkau tujuan ekonomi, pemerataan wilayah pembangunan, dan pengembangan masyarakat Bali secara menyeluruh.

Penulis, dosen STIM Dhyana Pura Badung, alumnus Pascasarjana MMA Unud, dan mahasiswa MA International Leisure and Tourism Studies CHN University Netherlands

———————–

* Pembangunan masyarakat Bali secara fisik dan mental sangat penting karena masyarakat merupakan bagian dari produk wisata itu sendiri.

* Pembangunan pariwisata juga pembangunan manusia seutuhnya yang berlandaskan atas keseimbangan ekonomi, wilayah, dan kemanusiaan itu sendiri.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: