Gizi Buruk, Kemiskinan Data dan Data Kemiskinan

October 7, 2008 at 12:32 am | Posted in Artikel | Leave a comment
Tags:

Jumat Kliwon, 28 Maret 2008

Debat


Gizi Buruk, Kemiskinan Data dan Data Kemiskinan

Oleh IGB Rai Utama, S.E., MMA., M.A.

BANYAK kalangan menganggap bahwa gizi buruk akibat ketidakmampuan seseorang memenuhi kebutuhanmakanan” yang bergizi yang diakibatkan oleh minimnya pendapatan. Di sisi lain, pemerintah sejak puluhan tahun lalu telah mempropagandakan istilahempat sehat lima sempurna”, itu yang sebenarnya harus diperjuangkan dan dipakai sebagai indikator kemiskinan paling mudah dan paling sederhana untuk dipahami oleh masyarakat luas. Gerakan pengentasan gizi buruk sangat dekat dengan pengentasan kemiskinan, sebab faktor kemiskinanlah yang menyebabkan gizi buruk.

Ada persoalan mendasar yang hampir tidak pernah mendapatkan jawaban, dan selama berpuluh-puluh tahun terus terjadi hingga kini. Persoalan tersebut adalah kemiskinan data tentang kemiskinan. Data kemiskinan hampir selalu berbeda pada setiap rezim pemerintahan atau mungkin berbeda pada setiap dinas yang melaporkannya dan cenderung lebih condong untuk kepentingan politik tertentu. Kita memang nyaris tak punya data andalan yang bisa dipakai sebagai instrumen bagi kebijakan pengentasan kemiskinan itu sendiri. Kalau kita mau jujur, berapa persenkah rasio kemiskinan penduduk Bali saat ini? Tersebar di daerah manakah? Tak seorangkah dapat menjawab dengan tepat? Jikalau ada yang mendekati benar, indikator apakah yang dipakai mengukurnya? Siapa yang mendata, siapa yang didata? Pernahkah ada sebuah lembaga tertentu yang benar-benar melakukan sensus tentang kemiskinan sampai pada daerah terpencil?

Secara internasional, masyarakat Indonesia dalam pengukuran HDI (human development index) selalu bertengger pada ranking bawah, artinya kemampuan masyarakat Indonesia memenuhi indikator quality of life masih sangat rendah, sebagai bukti nyata, sampai saat ini kita masih saja menemukan masyarakat kelaparan dan gizi buruk.

Pengentasan kemiskinan adalah masalah jangka panjang yang seharusnya diatasi melalui program jangka panjang pula, dan tentu saja harus dimulai dari program jangka pendek. Misalnya untuk kasus di Bali, pendataan masyarakat miskin mungkin lebih tepat dilakukan oleh pihak desa pakraman yang tentunya harus bekerja sama dengan pemda, BPS atau BKKBN yang memiliki kewenangan secara formal. Dalam jangka panjang, tentu saja, pihak yang berwenang harus melakukan sensus bukan sampling untuk memperoleh data yang akurat tentang kemiskinan dengan berbagai indikator yang dapat dipahami dan disepakati oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Sekarang sangat ironis, program-program pemerintah dirancang tidak sesuai kebutuhan masyarakat karena pemimpin kita miskin data tentang kemiskinan.

Ada persoalan sangat penting yang hampir dilupakan oleh pemerintah yakni kenaikan harga-harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, energi BBM dan listrik yang tentunya akan menjadi faktor pemicu cepatnya angka kemiskinan di Indonesia. Faktor ketidakmampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok juga disebabkan oleh rendahnya pendapatan masyarakat buruh atau pegawai yang hampir tidak pernah mendapat regulasi yang bijaksana. Sehingga masyarakat tidak salah memvonis bahwa pemerintah lebih memihak para pengusaha investor.

Seharusnya, jika ada komponen kebutuhan pokok dinaikkan tentunya komponen pendapatan masyarakat layaknya juga harus naik untuk menciptakan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Dalam kenyataannya, tidak pernah terjadi di masyarakat, jika ada kenaikan pendapatan selalu lebih rendah dari kenaikan harga-harga sehingga lambat laun gap atau ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran semakin besar saja. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, hampir dapat dipastikan beberapa puluh tahun lagi kita akan mengalami kebangkrutan masyarakat secara massal dan tentunya akan berdampak tidak hanya pada gizi buruk, tetapi juga pada seluruh aspek kehidupan yang lainnya.

Penulis, staf pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Dhyana Pura Badung, Bali

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: