Anggaran harus Berdasarkan Permasalahan di Masyarakat

October 7, 2008 at 12:30 am | Posted in Artikel | Leave a comment
Tags:

Kamis Pon, 31 Mei 2007

Debat


Anggaran harus Berdasarkan Permasalahan di Masyarakat
Oleh Rai Utama, S.E., MMA

ANGGARAN yang dibuat pemerintah kita kadangkala tidak tepat sasaran karena memang salah sasaran. Hal ini bisa terjadi karena anggaran dibuat tidak berdasarkan perencanaan yang berbasiskan permasalahan yang ada di masyarakat dan perumusan objektif yang tidak berdasarkan rasionalisasi. Aktivitas yang terlahir sebagai rincian implementasi dari sebuah objektivitas selanjutnya memunculkan angka-angka dalam lembaran anggaran juga sering tidak koheren dengan tingkat kesukaran dari sebuah aktivitas dan akhirnya berpotensi pada ketidaktepatan sasaran yang dirumuskan. Penggunaan data dari lembaga yang diragukan kinerjanya juga akan berpotensi melahirkan anggaran yang tidak sesuai aktivitas yang sebenarnya harus dirumuskan.

————————————–

Anggaran yang tidak tepat sasaran pada dasarnya disebabkan oleh hal-hal yang sangat fundamental seperti: data yang dipakai untuk memunculkan aktivitas yang tidak valid sehingga aktivitas juga akan tidak reliabel dan akhirnya anggaran pun akan tidak tepat sasaran. Ada penyebab lain juga, yakni program yang dibuat berdasarkan selera pemimpim bukan berdasarkan fakta di lapangan. Pembuat anggaran yang sering mengarahkan anggaran sesuai selera pemimpin atau bahkan golongan atau kelompok partai tertentu dan bukan penyelesaian permasalahan masyarakat yang sebenarnya. Birokrasi penyaluran dana yang berbelit-belit dan berliku-liku juga akan menimbulkan potensi kebocoran pada salah satu rantai penyalurannya, ditambah lagi jika disiplin para pejabat pemerintah yang sangat mudah tergoda untuk melakukan penyimpangan bahkan mungkin tergiur untuk melakukan tindakan manipulasi data bahkan mungkin korupsi. Jika memungkinkan, tiap anggaran yang dibuat pemerintah dapat disosialiasikan pada sebuah media dan selanjutnya realisasinya juga harus transparan. Jika semua lembaga pemerintah mampu mewujudkan hal ini maka, kemungkinan untuk melakukan penyimpangan akan makin kecil.

Dalam hal ini diperlukan para wakil rakyat yang mampu memahami project cycle management sehingga mampu pula mengetahui tingkat rasionalitas dan reliabilitas dari dana yang dianggarkan. Wakil rakyat yang cerdas dan bijaksana akan tercermin pada kemampuannya untuk mengetahui dan merumuskan permasalahan yang sedang dan akan mungkin terjadi di masyarakat yang benar-benar valid dan reliabel. Kemampuannya untuk memahami apakah sebuah aktivitas yang dianggarkan telah sesuai dengan objektivitas atau sudahkah koheren dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Sudah jelaskah, siapa yang bertanggung jawab atas tiap kegiatan yang dianggarkan sehingga jika terjadi penyimpangan akan mudah untuk ditelusuri dan selanjutnya dipertanggungjawabkan. Sudahkah anggaran dibuat menyertakan asumsi-asumsi eksternal yang mungkin akan menjadi faktor penghambat dan selanjutnya menyediakan alternatif jika terjadi kegagalan-kegagalan.

Tidak hanya pemerintah dan wakil rakyat yang harus bijaksana. Masyarakat pun harus jujur dan tentunya juga harus bijaksana. Tahu mana dan apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Misalnya, jika ada anggaran untuk membantu pengobatan masyarakat miskin, yang telah berkecukupan janganlah ikut-ikutan mengaku-ngaku miskin. Jika kita mampu untuk membayar sekolah anak-anak kita, janganlah latah untuk ikut-ikutan mengejar dana beasiswa dari pemerintah. Masih banyak contoh lain di masyarakat yang terkadang sangat tidak sesuai dengan tujuan yang sebenarnya.

Begitu juga lembaga hukum yang berwibawa dan tentunya adil dan bijaksana juga akan turut menciptakan ketepatan sasaran dari tiap anggaran yang dibuat oleh pemerintah. Lembaga hukum harus mampu menindak tegas para koruptor dari tingkatan paling tinggi sampai terendah untuk menciptakan rasa jera. Jika semua hal fundamental di atas telah terjawab, maka kecil kemungkinan anggaran yang dibuat pemerintah akan salah sasaran, setidak-tidaknya keborokan-keborokan akan dapat dikurangi.

—————

Penulis, dosen Tetap STIM Dhyana Pura Badung, mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN University, Netherlands

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: